Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2021

TIDAK ADA SATUPUN YANG SIA-SIA...

Gambar
Virus Covid-19 masih belum juga reda. Mau tidak mau kita harus berdampingan hidup dengan virus Covid-19 ini. Protokol Kesehatan sebisa mungkin kita terapkan,  meskipun prakteknya  kadang kurang konsisten. Karena memang tidaklah mudah. Manusia adalah makhluk sosial, minimal saat dalam keluarga , mustahil tidak bersentuhan. Jangan kan dalam keluarga, dalam hubungan sosial dengan teman-teman dekat. Meski kemudian kita berdalih sudah cuci tangan dan menggunkan masker. Yup! makluk super kecil itu menyelusup tanpa bisa di duga.  Teman guru di sekolah, sebut saja ibu Sri, berkesempatan untuk sharing seputar pengalaman beliau berjibaku dengan Virus Corona. Betapa tidak! putri beliau yang ke-2,  ternyata positif. Beliau berusaha self control, tidak panik,  berusaha mengatasi , karena bagi Bu Sri, panik hanya akan melemahkan imun dalam tubuh. Qodarulloh, malah beliau dan suami yang positif, sementara seluruh putra-putri beliau justru negatif. Virus ini bisa menyerang siapa saja dan kapan saja, t

MENULIS BUKU NON FIKSI ALA BU IIN

            Sejak SD saya sudah senang dunia tulis menulis. Berbagai pelatihan sempat saya ikuti.  Namun bergabung dengan Belajar Menulis Gel 1. Seorang sahabat memberikan saya nomer Om Jay, maka di sinilah saya. Masya Allah, betul-betul mengena dan ringan di ikuti. Maksud saya begini. Jika yang lain menggunakan zoom ( atau yang sejenis) , maka di Belajar Menulis Gel. 1 , melalui wa. Wow !          Awalnya  sempat bingung, karena masuk banyak gorup belajar menulis. Ah bingung ! coba undur diri, fokus di group yang masih nampak pembimbingan awal, gelombang  1. Aha! pas, sangat pas. sederhana dan unik. Cukup lewat  wa dan VN . Waktunya fleksible dan dasyatnya bisa di baca ulang lagi, lagi dan lagi. K alau lewat zoom atau you tube tidaklah sejelas ini, sumpah!  Telinga ini jadi familiar dengan suara Bu Kanjeng, Bu Aam, mata ini sangat haus membaca tulisan Om Jay.  He..he..mungkin karena saya type pembelajar auditori 'nkali ya?          Jum'at , 21 Mei 2021., pukul 19. 38 suara Bu

SEDIH ATAU GEMBIRA!

 Syiam menurut bahasa berarti menahan diri terhadap sesuatu. Dalam syariat Islam berarti menahan diri dari makan dan minum serta seluruh perkata yang membatalkannya sejak terbit fajar kedua hingga matahari terbenam, dalam rangka peribadatan kepada Allah Azza Wajalla. ( Abdul Ghani bin Abdul Wahid Al Maqdis " Tanbihul Afham Syarh Umdatil Ahkam, Griya Ilmu, 2012 ) Dalam siroh, syiam diwajibkan atas umat Islam pada tahun ke-2H. Allah mewajibkan syiam secara bertahap. Disertai beberapa pilihan antara Syiam atau memberi makan fakir miskin. Tentu disertai penjelasan lebih utama syiam. Jika terdapat halangan, bisa mengganti sejumlah hari yang ditinggalkan. Karena sulitnya ibadah syiam ini, Allah memberikan keringanan- keringanan tertentu seperti musafir, sakit. Namun tetap dinilai sangat utama dan penting, hingga harus mengganti di hari yang lain. Bisa bayangkan segala hal yang disukai jiwa dilarang. Makanan, minuman, berhubungan badan suami istri. Semua itu kebutuhan dasar sekali bagi m

BERHARAP HANYA PADA ALLAH

Gambar
http://terbingkai.blogspot.com/2012/12/gambar-orang-berdoa.html Dalam sebuah hadist Qudsi, Rasulullah bersabda : " Aku tergantung  pada persangkaan hambaKu kepadaKu. Maka hendaklah ia berprasangka kepadaKu sesukanya". Kehidupan ini bergulir, peristiwa demi peristiwa berlalu, bergantian. Ujian, musibah dan kesenangan datang silih berganti. Dulu saya berpikir hidup ini amat simple ternyata sangat kompleks.  Peristiwa demi peristiwa yang kita alami, justru bisa menjadi pembentuk pragadigma hidup kita. Kadang justru kita semakin jauh dari tujuan hidup yang seharusnya. Karena kerap kita hanya mengandalkan akal kita semata. Tak pelak lagi , keputusan yang kita ambil dalam hidup, disadari atau tidak merupakan konsekuensi dari ujian yang akan kita hadapi selanjutnya.  Di Indonesia, agama ini lebih di kenal secara Fikiyah. Maksud saya adalah Islam lebih dikenalkan sebatas melaksanakan sholat, puasa, sedikit sisihkan harta untuk zakat, berhaji jika mampu. Sebatas rukun Islam saja. Kura

WASPADA GODAAN

Puasa sudah memasuki hari ke 20, nanti malam adalah detik-detik penting untuk meraih lailatul Qadar. Allah berfirman dalam Surah Al Qadr: 3: " Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan" Jika kita beribadah dengan ikhlas, apakah shalat sunah, dzikir atau membaca Al Qur'an. Maka jika bertepatan dengan turunnya malam Lailatul Qadar. Maka Allah memberi nilai luar biasa, seperti pahala 83 tahun ibadah. Wow! Berapa banyak manusia yang hidup hingga usia 83 tahun. Jikapun ada, apakah dia seumur hidupnya bernilai ibadah? Bukankan manusia lahir bayi bertumbuh hingga dalam usia tertentu baru berstatus mukallaf. Sungguh, janji Pencipta Alam Raya ini mustahil meleset, pasti benar. Maka Rasulullah Sholallahu 'Alaihi Wasalam, Nabi yang maksum, di jamin masuk surga, senantiasa berusaha mencari malam Lailatul Qadar. Beliau bangunkan keluarganya pada malam sepuluh terakhir. Bahkan Rasulullah bersabda: " Barang siapa yang bangun sebagai USAHA  untuk mendapat malam Lailatul Q